melahirkan di dalam air
Water birth merupakan metode melahirkan didalam air hangat. Banyak orang percaya metode ini lebih aman dan memberikan banyak manfaat bagi ibu maupun bayi, termasuk mengatasi rasa sakit dan mengurangi trauma terhadap bayi. Namun, masih banyak kritik yang mengatakan bahwa prosedur ini memberikan risiko ke bayi seperti infeksi dan aspirasi air.
Sejarah dan perkembangan waterbirth
Selama tahun 1960-an, peneliti Rusia Igor Charkovsky melakukan penelitian tentang keselamatan dan manfaat dari waterbirth di Uni Soviet. Pada akhir 1960-an, Frederick Leboyer, seorang dokter dari Perancis mengembangkan tehnik dengan air hangat untuk membantu memudahkan transisi dari rahim ke dunia luar, dan untuk menangani kemungkinan trauma kelahiran.
Pada akhir tahun 1990-an, ribuan wanita telah melahirkan di Odent, sebuah pusat melahirkan di air di kota Pithiviers, Perancis dan konsep melahirkan di air telah tersebar ke banyak Negara Barat lainnya.
Pada tahun 2005, terdapat lebih dari 9.000 rumah sakit di Amerika Serikat yang telah mengadopsi protokol melahirkan di air tersebut. Dan lebih dari tiga perempat dari Rumah Sakit Nasional di Inggris ini menyediakan pilihan ini bagi setiap perempuan yang hendak melahirkan.
Penelitian – penelitian tentang waterbirth
Cukup banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui keselamatan tehnik melahirkan di air. Dua peneliti yang paling produktif yaitu Michel Odent dan seorang dokter Amerika Michael Rosenthal. Dianne Garland, seorang bidan di Inggris, telah memfokuskan diri untuk mengumpulkan penelitian – penelitian waterbirth, dan telah menerbitkan buku “Waterbirth: An Attitude to Care”. Di AS, Barbara Harper, perawat dan pendidik anak, telah mendalami waterbirth di seluruh dunia, dan membukukan sejarah waterbirth dan penggunaannya saat ini di puluhan negara dalam buku “Gentle Birth Choices”. Harper juga telah mengkompilasi bibliografi penelitian tentang waterbirth secara luas yang dapat dilihat di situs Waterbirth Internasional.
Manfaat tehnik melahirkan dalam air
Untuk bayi
Kelahiran dapat menjadi pengalaman yang berat bagi setiap bayi. Air yang hangatnya telah disesuaikan dapat membantu memudahkan transisi dari dalam kandungan ke dunia luar, karena kehangatan air, kelembutan cahaya, warna dan suaranya sesuai dengan lingkungan didalam rahim.
Untuk ibu
Manajemen rasa sakit
Harper melaporkan bahwa melahirkan didalam air adalah bentuk manajemen rasa sakit yang efektif selama persalinan (Harper 2000). Waterbirth merupakan bentuk hydrotherapy yang mana, dalam studi, nampaknya efektif sebagai bentuk manajemen rasa sakit untuk berbagai kondisi terutama Low Back Pain yang merupakan keluhan umum wanita yang sedang melahirkan. Bila dibandingkan dengan teknik konvensional manajemen rasa sakit pada persalinan (misalnya dengan obat bius dan narkotik) hydrotherapy juga menjadi alternatif yang lebih aman. Dalam studi, anestesi epidural berhubungan dengan meningkatnya angka persalinan pervaginam dengan tindakan dan juga seksio cesarean.
Berendam dalam air hangat menimbulkan respon fisiologis ibu untuk mengurangi rasa sakit, termasuk redistribusi volume darah, merangsang pelepasan oxytocin dan vasopressin (Katz 1990), yang kedua ini juga meningkatkan kadar oxytocin dalam darah (Odent 1998). The Cochrane Database of Systematic Reviews menemukan pengurangan signifikan dari persepsi rasa sakit ibu, yang mana sama dengan epidural analgesia sehingga disimpulkan bahwa berendam dalam air hangat selama kala I persalinan sangatlah bermanfaat. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa waterbirth menimbulkan bayi asfiksia atau persalinan yang lama. ”
Menurunkan prosedur episiotomy
Melahirkan dalam air diyakini membantu meregangkan perineum dan mengurangi risiko robek. Air akan membantu kepala bayi keluar dengan halus dan membantu menahan perineam, sehingga mengurangi risiko robek dan mengurangi penggunaan episiotomy.
Risiko dan kontroversi
Sebuah studi yang cukup besar tentang waterbirth di Inggris (1994-1996) menunjukkan penurunan angka kematian perinatal (1,2 per 1000 untuk waterbirth vs 4 per 1000 untuk kelahiran konvensional pada periode yang sama) (Harper 2000; Gilbert 1999; London: Kantor Statistik Nasional 2005). Sementara dari 150.000 waterbirths yang diamati di seluruh dunia antara 1985 dan 1999 dikatakan tidak ada laporan kematian bayi karena aspirasi air.
Sebuah tinjauan pustaka menunjukkan bahwa kebanyakan kontroversi tentang waterbirth bermula dari masyarakat medis itu sendiri yaitu dimana biasanya ahli OBGYN dan penyedia perawatan antenatal mendukung waterbirth, sedangkan di sisi lain spesialis pediatrik mengkritiknya.
The American Academy of Pediatrics pada tahun 2005 mengeluarkan pernyataan tentang waterbirth , bahwa karena sampai saat itu belum ada data dari studi randomized control trial yang menunjukkan manfaatnya untuk bayi baru lahir (mungkin malah menimbulkan komplikasi yang lebih banyak), maka ketika orang tua diberitahu tentang waterbirth harus dengan menekankan segala risiko yang mungkin timbul (Schuman 2006).
Namun, di sisi lain, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa waterbirth menawarkan keuntungan yang cukup signifikan untuk ibu (seperti dikutip di atas). Sampai tahun 2006 the American College of Obstetricians and Gynecologists telah mengambil sikap resmi yang mendukung water birth (Schuman 2006), juga the Royal College of Obstetricians and Gynaecologists dan the Royal College of Midwives secara nyata mendukung waterbirth (Royal College of Midwives 2006). Dikatakan bahwa studi yang mengkritik water birth biasanya bersumber atau mengutip dari “poorly managed” waterbirth atau water birth yang tidak diawasi dengan benar, yang biasanya dilakukan oleh penyedia layanan yang tidak berpengalaman.
Risiko infeksi
Perhatian yang lain adalah menyangkut meningkatnya risiko infeksi. Sebuah randomized controlled trial di Canada didapatkan tidak ada perbedaan kejadian infeksi pada wanita bersalin dengan ketuban yang sudah pecah. Karena protocol yang ketat untuk membersihkan bak persalinan sehabis dipakai (khususnya di rumah sakit), akan meminimalkan risiko transfer bakteri dari ibu ke bayi ataupun ibu ke bayi. Pada tahun 1999 dilakukan studi dengan mengkultur bakteri dari air kolam persalinan di the Oregon Health Sciences University Hospital, dan didapatkan tidak ada pertumbuhan kuman. Bahkan jika bakteri Pseudomonas (umum didapatkan dari air keran) ditemukan, bayi yang positif terinfeksi bakteri ini tidak membutuhkan terapi
Persalinan yang lambat
Karena dilaporkan efek relaksasi dari air, kadang-kadang dapat menurunkan intensitas kontraksi rahim saat persalinan, yang berakibat lambatnya kemajuan persalinan. Walaupun ahli water birth mengemukakan hal itu seharusnya dievaluasi kasus-per-kasus, banyak rumah sakit akhirnya mengadopsi “5 centimeter” rule, dimana wanita baru masuk kedalam bak persalinan jika pembukaan serviks sudah 5 cm atau lebih (Harper 2000).
Kehilangan darah maternal
penyedia layanan yang tidak berpengalaman tentang persalinan dalam air, mungkin sulit untuk menilai jumlah kehilangan darah ibu. Sementara metode untuk menentukan jumlah kehilangan darah ibu sedang dikembangkan, banyak penyedia layanan lebih memilih untuk melahirkan plasenta “on land” untuk alasan ini (plasenta dilahirkan setelah ibu keluar dari air).
Penerimaan masyarakat
Waterbirth telah diterima dan dipraktekkan di banyak bagian Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru, serta banyak negara-negara Eropa, termasuk Inggris dan Jerman. Banyak rumah bersalin swasta dan bidan yang menawarkan layanan waterbirth. Saat ini, waterbirth sering dilakukan di rumah pasien, karena sebagian besar rumah sakit belum mempunyai kolam persalinan sendiri. Pada tahun 2006, Waterbirth Internasional mendaftar lebih dari 300 rumah sakit di Amerika dengan fasilitas waterbirth.
Memang banyak penelitian yang mengatakan bahwa tehnik ini aman terhadap ibu dan bayinya, akan tetapi sebaiknya kita menunggu (ada baiknya melakukan sendiri) RCT dari tehnik ini.
Dilihat dari kebutuhannya, yang jelas tehnik ini bisa menjadi sebuah tehnik yang agak mahal dan kurang praktis. Kita harus menyediakan bak/kolam penampung air, yang mungkin dapat lebih mahal dan membutuhkan tata ruang khusus dibandingkan sebuah tempat tidur bersalin, kemudian harus selalu kita isi ulang dan bersihkan setiap habis dipakai, yang kelihatannya akan lebih berat dibandingkan dengan membersihkan dan merapikan tempat tidur pasien. Dan karena air merupakan media pembiakan kuman yang baik, maka dalam membersihkannya haruslah dengan teliti. Air di bak harus tetap hangat selama persalinan, maka diperlukan mesin penghangat air yang selalu hidup selama persalinan.
Jika kita hendak mengadopsi tehnik ini, ada baiknya memakai aturan 5 centimeter. Jika sejak pembukaan kecil dan ibu terlalu lama dalam air biarpun hangat, apakah tidak juga menggigil?
Yang harus dipastikan terlebih dahulu adalah, bahwa persalinan termasuk persalinan yang normal, tidak ada penyulit, taksiran berat janin cukup, tidak terlalu besar, jalan lahir luas, kontraksi adekuat, ibu kooperatif dan bersemangat. Jangan lupa informed consent yang cukup.
Saat bayi lahir, haruslah dipastikan bahwa saat itu ada yang mengawasi, jika tidak dan bayi terlalu lama “tenggelam dalam air” mungkin akan berakibat lain.
Sebaiknya plasenta baiknya dilahirkan diluar.
Nah jika melihat dari video, saya lihat bahwa risiko penularan suatu penyakit kepada penolong akan lebih besar, karena bisa jadi penolong harus ikut masuk ke dalam kolam, minimal sampai seluruh lengan terendam air, yang notabene sudah bercampur darah, cairan dan mungkin kotoran ibu. Sehingga harus dipastikan juga sebelumnya bahwa si pasien tidak mengidap hepatitis, HIV+, dan infeksi menakutkan lainnya yang dapat menulari penolong dan orang lain disekitarnya. Jadi prosedur ini tidak dapat diterapkan terhadap ibu yang perawatan antenatal-nya tidak diketahui dan pada persalinan tanpa persiapan misalkan ibu datang dalam keadaan hampir pembukaan lengkap dimana kita tidak sempat men-skrining penyakit berbahaya.
Memang untuk saat ini waterbirth menawarkan persalinan tanpa rasa sakit kepada ibu, risiko trauma yang kecil terhadap ibu dan bayi. Untuk dokter atau bidan sendiri, waterbirth menawarkan suatu hal yang baru yang mungkin berarti dapat mendatangkan rizki sendiri karena belum banyak teman sejawat yang melayaninya sehingga kita dapat memberikan penawaran yang berbeda dengan kebanyakan dokter.
Add a comment Desember 4, 2008
Kaitkata: Add new tag, melahirkan, melahirkan di dalam air
persalinan di dalam air
Waterbirth adalah proses persalinan yang dilakukan di dalam air. Sang ibu yang akan melakukan proses persalinan memasuki air kolam saat mulut rahim sudah tahap pembukaan 6.
Di Negara-negara seperti Rusia, Amerika Serikat, dan beberapa Negara di asia, Waterbirth telah dikenal sejak lama. Tapi kalo di Negara kita, Indonesia, baru mengenal Waterbirth pada tahun 2006.
Kenapa sih harus melakukan persalinan di dalam air?
Menurut dr. T. Otamar, SpOG:
“Saat melahirkan di dalam air, rasa nyeri akan berkurang ketimbang saat melahirkan di atas ranjang. Pasalnya, sirkulasi darah uterus lebih baik, sehingga sang ibu yang akan melahirkan merasa lebih rileks”.
Apakah tidak bermasalah bagi sang bayi?
Menurut dr. T. Otamar, SpOG, : Di rahim, bayi tidak bernafas seperti bayi yang ada di darat, karena kadar prostaglandin-nya masih tinggi sehingga otot diafragma belum berfungsi. Untuk itu, tidak jadi masalah bagi bayi yang baru lahir meluncur di dalam air, asalkan begitu lahir, langsung diambil.
Tetapi metode Waterbirth ini perlu dipertimbangkan bagi sang ibu yang kondisinya tidak memungkinkan untuk memakai metode ini, seperti bagi ibu yang memiliki kondisi preeklamasia (ada kemungkinan bayi prematur, bayi kembar, sungsang, pendarahan, infeksi herpes), karena virus herpes tidak mati di air hangat, sehingga dapat menular pada bayi yang baru lahir.
Apa sih kelebihan & Kekurangan dari metode Waterbirth ?
Kelebihan:
Rasa nyeri saat melahirkan berkurang dibandingkan dengan melahirkan di atas tempat tidur, dan proses persalinan akan lebih cepat ketimbang melahirkan di darat.
Kenapa nyeri berkurang?, karena adanya relaksasi terhadap seluruh otot tubuh karena berendam dalam air hangat (yang steril) yang telah diatur dalam suhu 34 derajat celcius, nah…….saat tubuh sang ibu merasa lebih rileks, tubuh ibu akan mengeluarkan hormon endorphin untuk mengurangi rasa nyeri. Jadi berkurang rasa nyerinya.
Perineum menjadi lebih elastis dan relaks, robekan/episiotomi dapat dihindarkan.
Ketika proses persalinan, sang ibu dapat mengubah-ubah posisi sesuai keinginan.
Metode Waterbirth ini memberikan manfaat bagi bayi : Karena otot lebih relaks, panggung lebih terbuka lebar, sehingga bayi keluar lebih lancar.
Air kolam yang hangat membuat bayi berasa masih di dalam air ketuban.
Kekurangan :
Rasa nyaman pada sang ibu saat berendam di dalam air membuat sang ibu malas untuk mengejan.
LANGKAH MELAHIRKAN DI AIR
Rasa sakit bisa tak terasakan lagi.
Setiap ibu ingin melahirkan tanpa rasa sakit, betul tidak? Untuk itu, diciptakan berbagai cara menyiasatinya, yaitu dengan menggunakan epidural, ILA, dan bahkan ada yang memilih pembedahan seksio sesarea (sesar). Kini, di Inggris sedang muncul tren menggunakan akupunktur untuk mengurangi rasa sakit persalinan. Sementara alternatif lain yang banyak dilakukan di Rusia adalah melahirkan dalam air. Negara inilah yang pertama kali memopulerkan melahirkan dalam air, sekitar tahun 80-an, yang kemudian banyak ditiru oleh ibu-ibu di negara Eropa lainnya dan Amerika.
Di Indonesia, melahirkan dalam air baru dilakukan tahun 2006 ini dan sudah yang kedua kalinya. Bukan tak mungkin dengan berita keberhasilan metode ini akan semakin banyak peminatnya. Bahkan menurut penelitian yang ada, selain karena tak menimbulkan rasa sakit, risikonya juga sama seperti melahirkan normal, biasa dalam arti ya paling aman. Nah, seperti apa melahirkan di dalam air ini? Bagaimana persyaratan dan keuntungannya? Yuk, kita simak pemaparan dari ahlinya, dr. Tamtam Otamar Samsudin, Sp.OG, dari Sam Marie Family Healthcare, Jakarta
PERSYARATAN
Sebetulnya, melahirkan dalam air sama dengan melahirkan secara normal biasa. Jadi, mempunyai indikasi yang jelas seperti halnya indikasi melahirkan normal. Kecuali jika bayinya sungsang atau kelainan posisi lainnya; si ibu memiliki penyakit herpes yang mudah ditularkan pada bayi; air ketuban hijau kental yang menandakan bayi dalam kondisi stres dan ini bisa diketahui bila cairan keluar sedikit dan berwarna hijau; serta plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir). Bila si ibu mengalami kelainan/kondisi seperti yang telah disebutkan tadi, maka sudah bisa dipastikan si ibu tak dapat melahirkan secara normal, melainkan harus secara sesar.
Karena itulah, selama pemeriksaan rutin kehamilan, dokter harus memantau seakurat mungkin akan kemungkinan bisa tidaknya melahirkan dalam air. Apalagi, untuk dapat melakukan persalinan di dalam air, juga harus memenuhi beberapa syarat berikut ini:
* Keinginan dari si ibu sendiri
Bila indikasi lahir normal sudah jelas, namun cara melahirkan yang diinginkan apakah dengan sesar, pakai epidural atau spinal agar tak sakit, tergantung dari si ibu sendiri. Begitu pun melahirkan dalam air. Jika bukan karena keinginan ibu itu sendiri tentunya si ibu akan stres, khawatir, atau tak nyaman. Bahkan bisa-bisa tak konsentrasi saat melahirkan.
* Kesiapan fasilitas di rumah sakit
Untuk melahirkan dalam air perlu kolam, sarana air dan kesiapan paramedis seperti dokter anak dan lainnya, serta kesiapan peralatan dan tindakan segera bila dibutuhkan tiba-tiba.
Kolam yang tersedia bisa kolam renang mainan dari bahan plastik yang sebelumnya sudah disterilkan atau dibuatkan kolam khusus. Air yang digunakan adalah air hangat (menggunakan water heater) dengan suhu 370C sesuai suhu tubuh. Suhu ini tetap dipertahankan dengan menggunakan alat sirkulasi air yang mengatur suhu air. Sementara untuk ketinggian air sebatas bagian bawah payudara ibu yang dalam posisi duduk.
* Besarnya bayi
Ukuran besar bayi sebetulnya sangat relatif. Untuk dapat keluar dari jalan lahir tergantung dari kemampuan panggul ibu. Jika kemampuan panggulnya cukup baik, besarnya bayi tak jadi masalah. Misal, berat bayi hampir 4 kg, jika panggulnya memungkinkan, bayi bisa keluar lewat jalan lahir. Tentunya untuk besarnya bayi ini juga sudah dipantau sebelumnya selama pemeriksaan kehamilan.
TAHAPAN PERSALINAN
Proses melahirkan dalam air memiliki tahapan yang sama seperti dalam proses melahirkan normal. Hanya saja dengan ibu berendam dalam air hangat, membuat sirkulasi pembuluh darah jadi lebih baik. Akibatnya akan berpengaruh pula pada kontraksi rahim yang jadi lebih efektif dan lebih baik. Sehingga waktu tempuh dalam proses persalinan ini lebih singkat daripada proses melahirkan normal biasa. Berikut tahapannya:
1. Ibu masuk ke dalam air
Ketika akan melahirkan, ibu mengalami fase pembukaan laten dan aktif. Nah, saat fase aktif pembukaan sudah 5 cm, ibu baru bisa masuk ke kolam air. Pada fase ini biasanya dibutuhkan waktu sebentar saja, sekitar 1-2 jam untuk menunggu kelahiran sang bayi.
2. Sikap rileks
Biasanya, begitu ibu masuk ke dalam kolam air akan terasa nyaman dan hilang rasa sakitnya. Ibu dapat duduk dengan relaks dan bisa lebih fokus melahirkan. Dapat juga posisi lain seperti menungging.
3. Mengedan seiring kontraksi
Di dalam air, mengedan akan lebih ringan, tidak menggunakan tenaga kuat yang biasanya membuat terasa lebih sakit. Air akan memblok rangsang-rangsang rasa sakit. Jadi, rasa sakit yang ada tidak diteruskan, melainkan akan hilang dengan sendirinya, ditambah lagi kemampuan daya apung dari air yang akan meringankan saat mengedan. Mengedan mengikuti irama datangnya kontraksi. Bayi yang keluar juga tak perlu bantuan manipulasi tangan atau lainnya, kecuali terlihat agak seret keluarnya.
Kontraksi yang baik akan mempercepat pembukaan rahim dan mempercepat proses persalinan. Apalagi dengan ibu berendam dalam air, dinding vagina akan lebih rileks, lebih elastis, sehingga lebih mudah dan cepat membukanya. Hal ini pula yang menyebabkan tak perlunya jahitan setelah melahirkan, kecuali bila memang ada robekan.
4. Pengangkatan bayi
Setelah keluar kaki bayi dan tubuh seluruhnya, barulah bayi diangkat. Darah yang keluar tidak berceceran ke mana-mana, melainkan mengendap di dasar kolam, demikian pula dengan ari-ari bayi. Kontraksi rahim yang baik menyebabkan perdarahan yang terjadi pun sedikit.
Ketika bayi keluar dalam air, mungkin orang khawatir bayi akan tersedak. Namun, sebetulnya bila diingat prinsipnya, bayi hidup 9 bulan dalam air ketuban ibu. Jadi, begitu dia lahir keluar ke dalam kolam, sebetulnya dia lahir ke lingkungan dengan kondisi yang hampir mirip dalam kandungan, yaitu ke dalam air dengan suhu yang sama seperti halnya ketika dalam rahim. Jadi ketika keluar dalam air, saat itu pun bayi belum ada rangsang untuk bernapas. Setelah diangkat ke permukaan barulah terjadi perubahan, timbul rangsangan untuk bernapas dan biarkan ia menangis. Setelah stabil kondisi pernapasannya, barulah digunting tali pusatnya.
Mengingat melahirkan di air membuat sirkulasi oksigen ke bayi lebih baik, maka ketika bayi lahir tampak kulit yang lebih kemerahan. Artinya, oksigenisasi ke bayi lebih baik dan membuat paru-parunya pun jadi lebih baik. Bayi juga tampak bersih tak banyak lemak di tubuhnya. Kemudian bayi dibersihkan dengan disedot sedikit dan dibersihkan tali pusatnya.
KEUNTUNGAN MELAHIRKAN DALAM AIR
* Mengurangi risiko perdarahan.
* Lebih nyaman buat ibu
* Mengurangi rasa sakit saat proses persalinan maupun kala dijahit, karena dinding vagina elastis. (Penjahitan dilakukan kalau kebetulan ada yang robek).
* Air hangat memudahkan bayi keluar, karena ibu jadi relaks, sirkulasi darah di rahim jadi baik dan kontraksi pun jadi baik.
* Ibu lebih fokus terhadap kelahiran anaknya, karena tidak adanya/sedikit rasa sakit saat konsentrasi disertai rasa suka citanya terhadap proses melahirkan itu sendiri.
* Ada kontak fisik antara bayi dengan ibunya saat melahirkan. Secara psikologis dapat berdampak baik. Apalagi setelah dilahirkan bayi langsung disusui.
* Setelah ari-ari keluar, ibu bisa langsung ke darat. Rasanya seperti habis dari kamar mandi, bukan seperti habis melahirkan karena tidak ada rasa sakit
Add a comment Desember 2, 2008
Kaitkata: persalinanan
Cinta
Jika mata adalah cahaya maka hati adalah permata, saat bahagia merona maka senyum adalah warna apabila senyum adalah ibadah maka cinta adalah anugrah dan sahabat bagaikan saudara.
Add a comment November 23, 2008
Kaitkata: cahaya cinta, cinta, kangen, sayang
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
1 komentar November 23, 2008
